Langsung ke konten utama

Postingan

#ODOK 2# Facebook Menghambat?

Pernah tidak merasa facebook sebagai penghambat?! :D Kalau saya, jujur, saya kadang merasakan facebook itu menjadi penghambat saya. Dalam hal apa? Menulis dan update tulisan di blog. :D Awalnya, saat setibanya di kantor, ide-ide itu bermunculan. Lantaran sebelum memulai aktifitas yang lain, saya membaca satu, dua, atau tiga koran dulu. Dari sanalah sebenarnya saya mendapatkan banyak bahan untuk dituliskan. Tapi ... setelah berada di hadapan komputer Imac segede gembrong ini, apa yang saya buka kedua kali? Pertama saya akan membuka email resmi institusi, ini yang penting. Karena bisa saja, hari itu tiba-tiba ada permintaan untuk liputan atau hal penting lainnya yang harus segera disampaikan dan disalurkan pada lembaga lainnya di institusi ini. Kemudian, situs kedua yang saya buka ya facebook itu. Hal pertama yang terlintas saat membuka akun FB itu, saya hanya akan melihat ada tidaknya komentar di tulisan yang saya ikuti atau saya posting. Kemudian melihat postingan dari teman ...

Tempe Ala Swiss!

Ada orang Swiss yang bisa bikin tempe!  Ana Larderet namanya. Ia bilang bisa bikin tempe karena terkesan dengan tempe di Yogyakarta. Ketika itu, tahun 2010, ia mengikuti program pertukaran pelajar ke Yogyakarta, tepatnya di Universitas Gadjah Mada. Ana sebenarnya seorang mahasiswi di Fakultas Hubungan Internasional Universitas Saint Gallen, Swiss Timur, yang punya cita-cita bekerja di perusahan besar dengan gaji mahal. Namun, karena ia terkesan dengan rasa tempe makanan khas Indonesia ini, Ana nekat banting setir mengubah cita-citanya menjadi seorang produsen tempe terbesar di Eropa. Sungguh cita-cita yang bukan main lagi besarnya. Sekalipun ia bukan orang asli Indonesia, tapi punya keinginan menduniakan makanan khas Indonesia ini. Nah, di sisi lain, ternyata ada juga orang Indonesia yang tinggal di Swiss dan sama-sama memproduksi tempe (walau masih produksi rumahan). Hanya saja, ada perbedaan mencolok diantara orang-orang ini. Perbedaannya adalah pada cita-cita tingginya me...

Tak Mudah

Ternyata tak semudah yang dibayangkan! Setelah menerima tawaran untuk menuliskan opini tentang jejak perjuangan muslimah, pikiran malah buntu. Mentok di dua paragraf. Berkisah tentang R.A. Kartini, tentang Istri Rasulullah SAW (Siti Khadijah), anak Rasulullah SAW (Fathimah), dan para shahabiyah lainnya. Mengatakan bahwa mereka juga pejuang Islam dan pahlawan. Tapi, cukup hanya sampai di situ. Masih tak ada lagi ide muncul. Entahlah, mau bagaimana lagi setelah ini. Apakah diselesaikan tanpa tahu mau diakhiri seperti apa. Ataukah mengangkat dua tangan saja?

Salah Tanggap Pesan Kartini

Tadi malam, salah seorang adik angkatanku memintaku untuk menuliskan sebuah opini. Saat ditanya mengenai opini apa yang dimaksud, dia menjawab temanya "Menapaki Jejak Perjuangan Muslimah (Refleksi Hari Kartini". Lalu, tanpa pikir panjang lagi aku langsung mencari sumber bacaan untuk mendukung opiniku. Berlembar-lembar halaman sudah aku print . Tujuannya agar aku bisa langsung membaca dan melingkari bagian-bagian penting yang bisa aku jadikan rujukan. Setelah menuliskan satu paragraf dengan judul "Benarkah Kartini Seorang Pahlawan", kutengok kembali pesan singkat yang aku terima tadi malam, untuk melihat berapa karakter tulisan yang dibutuhkan. Tak lama setelah membaca pesan itu lagi, pikiranku pun baru tersadar jika sebenarnya aku telah salah menangkap maksud permintaannya untuk menuliskan sebuah opini. Dia (adik angkatanku) bukan memintaku untuk menuliskan opini tentang peringatan Hari Kartini, tapi lebih tentang Jejak Perjuangan Muslimah. Ah, sungguh. Lagi-...

Muak

Aku muak! Dengan suara bising Pekak telinga dibuatnya. Aku muak! Dengan bibir perajut janji Padam telinga ini mendengarnya. Aku muak! Dengan kaki-kaki manis bertahta Kaku mulut ini mengenyam. Aku muak!

Akhir Si Kucing Ajaib

"Untuk semua orang yang pernah mengalami masa kecil" Sobat , masih ingatkah kita dengan film masa kanak-kanak yang rutin ditayangkan setiap hari minggu pagi? Bagi kita yang lahir di tahun 90-an mungkin akan mengingat beragam film kartun yang tayang pada hari itu. Namun, ada satu film kartun, yang bahkan hingga kini, masih menjadi kesukaan banyak orang dan anak-anak. Selain itu, masih sering pula ditayangkan di televisi (RCTI) setiap hari Sabtu dan Minggu. Film apakah itu? Ya, DORAEMON. Film itulah yang saya maksud. Doraemon, si kucing biru ajaib yang punya banyak peralatan menakjubkan. Kucing robot inilah yang juga menemani Nobita, tokoh utama anak laki-laki yang dikenal malas, kurang pandai dalam pelajaran, sering lupa mengerjakan PR dan datang terlambat, sering dijahili Suneo dan Giant, serta sering dimarahi ibunya atau gurunya. Si kucing ajaib ini sering meminjamkan alatnya pada Nobita, itu pun sebenarnya karena Nobita yang memintanya, sebab ia sering dijahili ol...

Percakapan Tentang Calon Presiden

Beberapa hari yang lalu, muncul percakapan diantara aku dan adik-adik angkatanku di asrama. Kami berenam membicarakan tentang siapakah yang bakal jadi pilihan saat pemilu presiden besok. Tiba-tiba, salah seorang adik angkatanku (sebut saja A) tak sengaja nyeletuk, "Aku besok mau nyoblos W***** (sensor)," katanya. Sontak saja aku dan adik angkatanku lainnya (si B, C dan D) mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan. Tentunya pertanyaan tentang benarkah dia akan memilih mereka, dengan pertimbangan begini dan begitu. Melihat realita yang dibuat begini dan begitu.  "Ya... habis, aku nggak tahu siapa aja calonnya," kata si A. Oh my God ! Sudah H-21 (dihitung dari malam kita cuap-cuap itu ya) dia masih belum tahu siapa aja yang bakal dicalonin jadi presiden. Hm... padahal mahasiswa, moso iya nggak tahu siapa-siapa aja yang dicalonin. "Lah, masa kamu nggak tau?! Terus selama ini kamu kemana aja?" tanya B. "Ya aku tahunya emang orang itu aja. Karena ak...

Berita Kampanye dan Tikus DPR

Ah bosan! Menjelang pemilu aja, mereka pada berebut space . Tebar pesona sana-sini. Memolek muka dengan riasan kebajikan. Ada juga yang tiba-tiba muncul dengan segaaala kepeduliannya. Berjanji akan begini dan begitu, atau akan melakukan ini dan itu. Katanya sih, demi rakyaaat. Tapi entahlah apa yang sebenarnya mereka inginkan. Mungkin saja ada udang di balik tepung, eh salah dink, udang di balik batu maksudnya. Seperti hari ini saja, beberapa koran harian yang aku baca, lagi-lagi menampang wajah-wajah itu. Dan ya memang itu-itu saja fotonya. Ah ya, positive thinking ajalah, barangkali... barangkali loh ya, adanya cuma foto - fotonya mereka, yang lain mungkin lagi nggak mau di foto. Tapi, ternyata itu malah bikin mulut ini manyun beberapa senti ke depan. Ckckckck, bosan jadinya mau baca berita malah disuguhinnya yang berita "jadi-jadian". Ya gimana nggak aku sebut berita "jadi-jadian", wong kalau lagi jauh-jauhnya sama pemilu, berita yang model begituan kagak ada....

Jangan Remehkan Mimpi Part II - "Berani dan Yakinkan Diri"

Berbicara lagi tentang mimpi. Jika pada postingan sebelumnya saya bercerita tentang pertemuan dengan mbak Oki Setiana Dewi. Sekarang saya akan bercerita tentang sebuah kalimat, yang kemudian mengubah hidup saya, tentunya selama saya menjalani kewajiban sebagai mahasiswa. Motivator muda sekaligus penulis buku "Jangan Kuliah Kalau Gak Sukes" pernah bertandang dan menjadi narasumber dalam sebuah acara motivasi. Acara motivasi itu mengikutsertakan semua mahasiswa baru, atau yang baru duduk di semester satu. Kegiatan yang diselenggarakan sebagai salah satu rangkaian acara penyambutan mahasiswa baru di universitas kami itu, memang luar biasa. Karena membuat kami, para mahasiswa baru berani untuk bermimpi. Berani untuk mengutarakan dan menuliskan apa saja keinginan kami, satu, dua, lima, dan sepuluh tahun ke depan. Saya yang memang punya impian dan keinginan untuk menjadi seorang penulis, langsung menuliskan keinginan itu pada urutan pertama. Hitam di atas putih itu sudah teris...

Jangan Remehkan Mimpi - "Bertemu Orang-Orang yang Menginspirasi"

Jangan pernah meremehkan mimpi dan impian. Itulah yang pernah saya dengar dan baca. Sebuah peristiwa terjadi itu bisa jadi karena ada seseorang yang memimpikannya. Berbicara tentang mimpi juga, saya pernah punya mimpi untuk bisa bertemu dengan orang-orang yang menginspirasi di dunia ini. Hal itu saya tuliskan setelah membaca buku "Jangan Kuliah Kalau Gak Sukses" karya Setia Furqan Khalid, waktu itu saya masih kuliah semester satu di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Setelah beberapa lama memajang tulisan impian itu di dinding kamar, satu demi satu orang-orang yang membuat saya kagum bermunculan di hadapan saya. Mereka adalah Habiburrahman El-Shirazy, Ahmad Fuadi (penulis tetralogi novel Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, dan Rantau 1 Warna), Oki Setiana Dewi, Helvy Tiana Rosa, Buya Syafi'i Ma'arif, Din Samsuddin, Dahlan Iskan, Anies Baswedan, dan Tun Mahatir Muhammad. Bahkan saya juga sudah melihat dan mendengar langsung berpatah-patah kata yang disampaikan oleh ...

Media Massa Kampanye 2014

Ada sebuah tulisan opini di koran Suara Merdeka tentang media massa. Tulisan itu berisi tentang parsialitas media massa di tahun 2014. Arti parsial jika mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia maksudnya adalah "berhubungan atau merupakan bagian dari keseluruhan". Kemudian jika mengacu pada tulisan opini itu saya menangkap bahwa maksud parsial di sana itu berarti media massa yang menjadi bagian dari politik, atau kasarnya media kampanye. Memang, untuk tahun 2014 ini banyak sekali media massa yang menjadi alat kampanye. Kita perhatikan saja media elektronik seperti televisi itu. Berapa banyak televisi milik swasta atau pribadi yang kemudian pemiliknya memanfaatkan televisi sebagai alat kampanye. Kalau masih belum tahu televisi apa saja yang saya maksudkan, itu seperti TVOne, Metro TV, Global TV, MNCTV, dan RCTI. Belum lagi media massa cetak seperti koran. Setelah diperhatikan, memang ada beberapa koran yang banyak menampilkan satu golongan capres-cawapres tertentu. Intensi...

ODOK 1 : ONE

Tentang satu (1). Tapi sepertinya lebih mudah membuat tulisan dengan menggunakan kata 'pertama' saja, toh 'pertama' dan 'satu' artinya sama. Benar tidak?! :D Ya, ini adalah tulisan yang pertama. Tepatnya tulisan ODOKku yang pertama. Apa itu ODOK? ODOK itu One Day One Karya. Kepanjangan ODOK ini aku dapatkan setelah bertanya pada salah satu anggota KBM Regional Yogyakarta, Mbak Narni Asih. Mulanya, aku penasaran saja dengan banyaknya postingan di KBM Regional Yogyakarta dengan judul ODOK. Ada ODOK-1, ODOK-2, ODOK-3, dan ODOK-ODOK lainnya. Karena tak mengerti juga apa maksudnya, akhirnya kuberanikan diri bertanya pada mbak Narni. Apa sih maksudnya ODOK itu. Dan ternyata, jawabannya ya itu tadi, One Day One Karya. Lantas, aku berkeinginan untuk berpartisisapi, eh berpartisipasi dalam ODOK itu. Meskipun sudah ketinggalan sangat jauh, ternyata mbak Ukhti Tika Ceriwis berkenan memberikan kesempatan bagiku untuk mencobanya. Tapi ya harus tetap mengikuti aturanny...

Ada Tikus Di Ruang Sidang DPR

Tadi pagi saya membaca berita di koran. Salah satu koran menampilkan sebuah foto unik. Ada seekor tikus yang bertahta di atas mimbar ruang sidang DPR. Awalnya, saya tadi berpikir untuk segera membuat tulisan atau puisi tentang foto itu. Tapi karena kemudian secara tib-tiba juga, saya diminta untuk meliput acara RKTT Universitas. Jadilah kata-kata yang akan saya susun itu terdampar dan hingga sekarang, kata-kata itu belum terkumpul. 

Frustasi

Ahh... lama-lama aku frustasi Menatap nanar kertas melayang tak berisi Lagi, dan lagi Berulang kali Belum kering tinta ini Belumlah pudar ide ini Tapi seonggok kotak kecil meyulut hati Mematikan dan menguburkan gairah yang berapi

Korea Oh Korea (Part I)

Dosen saya pernah berpesan, "Sakinah, jangan nonton film Korea terus," katanya dalam wall komentar di facebook . Saya pun meng-iyakannya, tapi saat itu saya juga belum berpikir kenapa. Setelah beberapa saat lamanya, saya tidak menghabiskan waktu senggang di malam hari dengan menonton film korea. Itu pun karena sebelumnya saya drop  dan vakum dari yang namanya menonton film di laptop. Setelah kesehatan saya kembali, aktivitas saya di pagi hingga sore hari berjalan lagi di kampus. Menjalani hari sebagai jurnalis kampus. Sementara di malam harinya, saya mulai lagi membaca-baca buku, dan juga tulisan-tulisan luar biasa di KBM. Saya pun akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kembali cerita yang pernah saya buat. Tak ada waktu di malam hari untuk saya menonton drama atau film Korea. Dampaknya, saya bisa rutin setiap malam membubuhkan tulisan di atas laptop. Meski hanya beberapa paragraf saja, tapi itu ternyata cukup membantu saya untuk terus berpikir dan mengasah otak. Ide-ide ...

Belajar dari Sejarah yang Hilang

Ini adalah resensi yang saya tulis tentang buku Gara - Gara Indonesia karyanya Agung Pribadi. Tulisan resensi ini saya posting di sini lagi, karena sebelumnya juga berhasil tembus ke salah satu koran yakni, Kedaulatan Rakyat. Ini scan dari korannya.

Pesan Dari BJ. Habibie

Sudah beberapa hari ini saya tidak memposting tulisan di blog ini. Oke dah kalau begitu, saya pos kan tulisan saya di Facebooki, yang saya jadikan status tadi malam. Selepas menonton tayangan Mata Najwa di Metro TV yang menghadirkan mantan Presiden RI ke-3, Baharuddin Jusuf Habibie, banyak pesan yang bisa diambil dari kata-kata beliau. Namun, ada beberapa hal yang sangat saya ingat mengenai pesan dari pak Habibie itu, diantaranya ; - Industri dalam negeri kalau bisa dikelola sendiri, ngapain masih minta bantuan sama asing?! - Pemimpin itu bukan artis ! - Pemimpin itu Problem Solver. - Sekarang zamannya generasi penerus yang berhak memimpin bangsa Indonesia. Dan generasi penerus itu yang umurnya berkisar antara 40 - 60 tahun. Kita berdoa saja, semoga nanti yang akan memimpin negeri ini adalah orang yang tepat. Bukan yang suka main impar - impor barang, makanan, buah, sayur, dsb. Bukan yang lupa diri dengan kekuasaan dan uang. Bukan juga yang lupa dengan kekayaan ...

Netralitas Media

Menyambung tulisan sebelumnya tentang "Bukan Lagi Media (nya) Massa". Saya ingin menambahkan ulasan lagi mengenai netralitas media. Apa itu netralitas media, kapan media massa dikatakan bersifat netral, dan bagaimana ia bersikap netral? Selanjutnya akan saya tuliskan di bawah ini. Saat membaca sebuah berita di surat kabar atau melihat berita di televisi, beberapa dari kita mungkin akan bertanya apakah berita yang ditampilkan itu murni sebagai sebuah informasi ataukah ada kepentingan di dalamnya. Kepentingan tertentu dalam sebuah media bukan lagi menjadi hal tabu dan telah menjadi rahasia umum. Media tersebut dapat menayangkan berita atau informasi yang dapat memberi keuntungan pada pemiliknya, bahkan juga dapat menutupi peristiwa yang dapat memberikan pengaruh buruk pada sang pemilik. Hal itu pula yang kemudian menjadikan media massa baik cetak, elektronik, maupun online berbeda dalam menyajikan sebuah berita atau informasi kepada khalayak. Organisasi media yang mel...