Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerbung

Jejak Pertama Part 7

Jejak Pertama Part 7 Seorang lelaki tampan bertubuh jangkung, berdiri tegap di depan rumah Kirana. Matanya menyelisik ke segala penjuru, tak ditemuinya tanda-tanda keberadaan penghuni rumah itu. Ia pun melangkah mencoba memasuki rumah ala peninggalan Belanda itu. Pintunya tertutup rapat, namun tak terkunci. Ia segera mengendap masuk ke dalamnya. Mencari Kirana. Lorong-lorong gelap dalam rumah itu, membuatnya sulit untuk terlihat. Disusurinya satu persatu ruangan dalam rumah itu dengan seksama. Hanya demi menemukan seorang gadis remaja yang mungkin akan bernilai jutaan dolar, jika gadis itu jatuh di tangan yang salah. Ia pun sudah tak memiliki banyak waktu untuk menunda apa yang telah Profesor Abdul Qasim perintahkan padanya. Ia harus bergerak cepat. Jika ingin semuanya selamat. "Siapa kau? Apa yang kau inginkan di rumah ini?" Seorang gadis remaja dengan tubuhnya yang tak terlalu tinggi, tiba-tiba muncul di hadapannya. Sebuah pistol hitam Glock 19 tertempel tep...

Jejak Pertama Part 6

Jejak Pertama Part 6 Story by: Ittazura Nauqi   30 hari sebelumnya. Kilatan lampu di dalam ruangan Khalid terpancar. Sesekali lampu dalam ruangannya kembali berkilat. Meninggalkan sekelebat bayangan yang hadir tanpa sepengetahuan pria paruh baya itu. Bayangan itu terbaur dalam kegelapan malam yang dalam hitungan detik ikut menyelimuti ruangan Khalid.  Khalid nampak tetap tenang. Ia kemudian meraih sebuah lilin yang tersimpan dalam laci mejanya dan menyulutnya. Cahaya kembali menyeruak dalam ruangannya. Tanpa pikir panjang lagi, Khalid melanjutkan pekerjaan penting yang sempat tertunda tadi. "Aku harus menyelesaikan ini sekarang. Sudah tak ada waktu lagi bagiku menyimpan semua rahasia besar ini." Khalid membatin. Ya, Khalid tahu sudah menjadi tugasnya menyampaikan kebenaran itu. Walau nyawa taruhannya. Sudah tak ada lagi keraguan dalam hatinya. Tekadnya sudah bulat. Amarahnya pun kian membara layaknya api yang siap melahap habis lilin di hadapannya. ...

Jejak Pertama Part 5

Jejak Pertama Part 5  Story by: Ittazura Nauqi Matahari bersinar keemasan. Merangkak naik menuju peraduannya. Burung-burung yang terbang rendah, bersenandung, menyambut hari yang tak kan berulang. Semilir angin dari luasnya samudera mengampiri. Menyelusup. Menembus tebing-tebing kokok, hingga tertiup tiba di bibir pantai. Malam yang cukup mencekam telah terlampaui. Begitu setidaknya pikiran yang menggelayut dalam benak Freya dan Nadia. Namun tidak dengan Kirana. Dirinya masih saja berkutat dengan pikiran-pikiran positif dan negatif yang silih berganti.  Ia teringat percakapan dengan Nadia, sesaat sebelum Nadia dan Freya memutuskan untuk ikut pergi bersama seorang lelaki yang baru mereka temui. Meninggalkan Kirana sendiri di rumah tua itu.  "Kirana, apa kamu mengetahui sesuatu tentang kejadian ini?" tanya Nadia setengah berbisik. Tanpa sadar Kirana menjawab, "Aku tidak yakin jika itu ma... ." Kata-katanya terputus. Ia menyadari apa yang akan...

Jejak Pertama - Part 4

  Jejak Pertama Part 4 by: Ittazura Nauqi   "Ini pasti sebuah teror. Ya, ini pasti teror dari orang yang kita kenal. Kirana, apa yang kamu lakukan di situ? Pikirkan jalan keluar untuk kita, jangan hanya berdiam diri saja!" seru Freya. "Sabarlah Kak, aku juga sedang berpikir," jawab Kirana. Aku juga sedang memikirkan kondisi ayah. Dimana dia sekarang? Kirana seolah tahu bahwa ayahnya mungkin juga dalam keadaan bahaya. Namun Kirana tak bisa memastikan hal tersebut. Ayahnya sudah pergi sehari sebelum kejadian di rumahnya. Kirana tak tahu kemana ayahnya itu pergi. Ia hanya tahu bahwa ayahnya telah menitipkan sesuatu pada dirinya. Dan ia percaya jika sesuatu yang dititipkan ayahnya itu masih berada di dalam rumah kuno tersebut. " Oke, oke. Kakak akan sabar, tapi kakak tidak harus berdiam diri sepertimu." Freya kemudian berlari meninggalkan Kirana dan Nadia. Dalam kegelapan malam itu, Freya berlari ke arah barat. Ia mencoba mencari perto...

Cerbung - Jejak Pertama

Part III Nadia perlahan melangkah maju menyibak tirai yang menutupi pintu. Kirana masih tetap bergeming dan menunggu Nadia. Sementara Freya berjalan mondar mandir di hadapan Kirana. Langkah Nadia terhenti tepat di belakang pintu. Matanya melebar melihat pintu itu. Mulutnya sedikit terbuka, menandakan kepanikan dalam dirinya.  "Nadia, apa yang kamu lakukan di situ? Kenapa lama sekali? Cepat ambil kunci pintunya...!" teriak Freya. "K...k...kuncinya tidak ada!" kata Nadia sambil berlari ke luar, lalu berteriak lagi, "Kuncinya hilang...! Kunci pintunya sudah diambil...!" "Apa? Mana mungkin penyusup itu mengambil kunci pintunya. Untuk apa dia mengambil itu? Tidak Nad, pasti ada kuncinya. Pasti masih ada di sana kunci pintunya. Kamu cari sekali lagi di pintunya atau di sekitar pintu itu. Mungkin kuncinya terjatuh di sekitar pintu," Freya masih tidak percaya kata-kata Nadia. Ia bersikeras bahwa kunci itu masih ada di tempatnya dan tidak ...

Jejak Pertama

Part II Daun yang menari dalam kegelapan, menemani langkah kaki Kirana saat keluar dari sebuah rumah kuno bercat kuning. Rumah itu terlihat seperti bangunan yang dibuat pada masa penjajahan Belanda. Rumah itu tergolong unik dan langka. Karena pemiliknya enggan mengganti desain rumah itu dengan desain rumah yang lebih modern di abad 22. Rumah kuno itu juga terlihat paling mencolok dibandingkan rumah-rumah berderet lainnya yang berada seratus meter di kanan kirinya. Sementara pada waktu bersamaan, sepasang mata yang sejak beberapa menit siaga, mulai melangkah maju. Sosok berbaju hutam itu mulai menantang jalan. Menyebrangi jalan raya dengan lalu lalang kendaraan.  Sejenak langkahnya terhenti. Tepat di balik dedaunan yang menyelimuti pagar rumah kuno itu. Namun, sedetik kemudian, ia kembali mengayunkan kakinya. Menyelinapkan tubuhnya melalui pagar yang setengah terbuka. Sembari memperhatikan punggung Kirana yang perlahan berlalu.  "Kali ini aku harus berhasil,"...

Jejak

Part I Cengkraman malam meliputi kota. Seakan mengundang kejahatan untuk muncul dan berkeliaran di setiap lorong dan gang sempit. Para penduduk bersembunyi di dalam rumah-rumah mereka. Sama sekali enggan berurusan dengan sesuatu di luar perkiraan mereka.  Denting jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 malam tepat. Seorang gadis berparas cantik dengan kulitnya yang berwarna kuning langsat, duduk seorang diri dalam sebuah kamar. Alis tebal, hidung mancung, bola mata dan rambut ikal kecoklatan yang dimilikinya, mengisyaratkan bahwa ia punya garis keturunan Timur Tengah. Sesekali, gadis setinggi 145 cm dan bertubuh ramping ini, berbicara sendiri dan berjalan mondar mandir dalam ruangan itu. Hingga beberapa saat kemudian ia memutuskan untuk melangkah keluar. Sembari menyelempangkan jaket birunya, gadis cantik bernama Kirana Ayu Az-Zahra itu mencoba menembus kepekatan malam. Semilir angin laut seolah mencoba menusuk tubuh kecilnya. Tapi ia tetap terus berjalan bersama angin, d...

Sebuah Cerita

Jejak Pertama By: Ittazura Nauqi Prolog "Kau tak kan bisa pergi dari tempat ini," bisik sebuah suara yang sangat dikenalnya. Ia hanya bisa terdiam mematung dalam rebahnya. Tubuhnya tak lagi mampu menahan beban kakinya untuk berpijak. Bau anyir darah perlahan ia rasakan, namun tak tahu dari mana asalnya. Sementara itu, pemilik suara tadi terus mendekati. Ia merasa dunianya akan hancur, saat orang yang berbisik tadi perlahan mengangkat sebuah botol kecil berisi cairan berwarna merah darah, dan mendekatkan pada bibirnya. "Kupikir, kau tak kan keberatan jika aku menumpahkan sedikit cairan ini ke dalam tubuhmu," bisik suara itu lagi sambil menyeringai tajam. Pemilik suara itu kembali mengangkay botol kecil di tangannya, tapi kemudian menjauhkannya. Lelaki paruh baya itu menghela perlahan. Aku selamat. Namun beberapa detik kemudian, ia merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. Dadanya terasa sesak dan panas. Ia pun mencoba bergerak dan membalikkan badann...

Ujung Yang Hanya Bisa Dipandang (part 1)

Madura - Surabaya - Sidoarjo - Malang - Pasuruan - Solo - Boyolali - Jogja - Purwokerto - Purbalingga - Cilacap - Wonosobo - Jepara - Karimun Jawa - Jakarta - Depok. Deretan nama kota dan pulau yang pernah kusambangi. Sejak kecil diriku sudah terbiasa bepergian Madura-Surabaya, dan kota terjauh yang bisa kutandangi kala itu adalah Malang. Mungkin karena aku yang terbiasa diajak pergi kesana-sini, suasana tiba di tempat baru itu menjadi hal yang sangat aku senangi hingga sekarang. *** "Abangku itu senang jalan-jalan. Kalau habis hari raya, kita mesti jalan-jalan. Tapi sebelum kita pergi, biasanya abangku menyuruh kita agar merencanakan dulu kemana tujuannya. Kata abang, "Tanpa jalan-jalan nggak seru..." Percakapan sederhana kami bertiga dimulai dari cerita Aya. Ia menceritakan kalau dirinya dan keluarganya suka pergi ke tempat-tempat wisata, setelah hari raya Idul Fitri. Sebab hanya pada waktu itu saja, ia dan abang-abangnya bisa berkumpul bersama ke...