Langsung ke konten utama

Postingan

Kata-Kata Bijak Albus Dumbledore #4

Sore-sore itu memang enaknya nulis tulisan ringan begini. Setelah tadi berkutat dengan segepok lembaran materi bahan berita, tentang partai politik dan rencana pemilu serentak 2019. Sepertinya emang lebih enak kalau sekarang saya menuliskan lagi tentang film favorit saya. Ya, apalagi kalau bukan film Harry Potter. Hehe .   Em...masih pada ingatkah dengan ODOK-ODOK yang pernah saya buat tentang Kata-Kata Bijaknya Albus Dumbledore? Nah, di sana kan baru saya tuliskan kata-kata bijak yang keluar dari Profesor Dumbledore itu, yang ada pada 3 episode Harry Potter. Apa aja hayo...? Ada yang tahu nggak...?! ^___^  Hm...nih, saya kasih tahu lagi aja.   1. Harry Potter and The Sorcerer's Stone 2. Harry Potter and The Chamber of Secret 3. Harry Potter and The Prisoner of Azkaban   Nah, dari ketiga jilid film Harry Potter itu, sudah saya tuliskan semua kata-kata bijaknya. Sekarang, waktunya saya untuk menuliskan kembali kata-kata bijak dari profesor kita ( bag...

Zaman Bolak-Balik Masuk Desa

Zaman emang udah terbalik. Kalau mau dibilang zaman edan ya bisa juga. Tapi itu tergantung perspektif kita masing-masing aja mau ngelihatnya gimana. Bagi orang waras, mungkin zaman sekarang emang edan. Tapi kalau bagi mereka yang 'edan', barangkali kita yang memandang zaman udah edan inilah yang dipandang edan. Bingung ya?! Saya sendiri aja juga bingung. Hahaha.   Fenomena sekarang ini emang udah terbolak-balik. Cowok jadi cewek, cewek jadi cowok. Perempuan jadi laki-laki. Laki-laki jadi perempuan. Apa bedanya coba ya cewek sama perempuan, cowok sama laki-laki. Hehehe. Orang waras dibilang gila. Orang gila dipandang waras ( nggak percaya, lihat tuh poli-tikus) . Tapi untung aja nih huruf nggak kebolak-balik. Kalau iya, kan repot juga yang mau baca. Iya nggak?! Ah, iya-in aja...biar cepet. Hehehe .   Nah, fenomena itu (cowok jadi cewek, cewek jadi cowok) ternyata nggak cuma terjadi di kota-kota gede. Fenomena aneh ini ternyata sudah menjangkiti penduduk yang notabene ...

Teman Baru Dari Negeri "Kiblat Kedua" (2)

Sok Pede Aja...  Keesokan harinya, sesampainya di Hotel Grand Zuri, seperti biasa (kayak udah biasa ketemu sama orang asing aja, hehehe) hati mulai ketar-ketir. Memikirkan kata-kata apa yang akan aku utarakan pertama kali.  Nice to meet you, How are you,  atau hanya sekadar  say hello  saja. Setelah mereka semua berada di dalam bus, ada salah seorang perempuan paruh baya yang berkata padaku untuk menjelaskan pada rombongan Palestina itu, mau ke mana kita? (dengan gaya ala Dora The Explorer). Ke Gunung Merapi... yeyeye... hahaha . Tapi ya memang benar kita mau ke gunung Merapi. Pada tahu kan gunung Merapi di Jogja, yang pernah erupsi tahun 2010 itu. Nah itu erupsinya guede banget, tahun segitu aku udah tinggal di Jogja, kuliah tahun kedua. Jadi tahu dan ngerasain langsung gimana kampus mendadak 'bersalju' (alias kena hujan abu vulkanik), dan kampus juga mendadak jadi tempat pengungsian sementara. Oke, kembali lagi ke rombongan Ensamble. Pagi itu (2 Dese...

Teman Baru Dari Negeri "Kiblat Kedua"

Sudah cukup lama sepertinya aku tak memosting tulisan di sini. Baiklah hari ini kumulai saja dengan kisah perjalanan sehari beberapa waktu yang lalu. Karena aku pernah berjanji untuk menuliskan pengalaman ini, jadi lebih baik aku tuliskan saja saat ini. Daripada aku selalu dihantui oleh kata-kata yang berdengung-dengung di kepala agar segera menunaikan janji ini.  Oh iya, tapi aku juga pernah janji akan mencoba menuliskannya dengan bahasa Inggris. Heu heu ... gimana nih ya?! Hm... versi bahasa Inggrisnya nyusul aja deh.  Oke, kita mulai saja ya. Kisah dan pengalaman singkat ini sebenarnya bermula dari pikiranku yang selalu bergumam, "Sepertinya seru ya kalau punya teman dari luar negeri. Bisa kenal dengan orang-orang dari seluruh penjuru dunia, dan bisa sambil belajar bahasa Inggris gratis." Hehehe . Aku punya pikiran dan angan-angan seperti itu karena merasa iri dengan mereka yang bisa belajar ke luar negeri, punya teman dari sana, dan bisa berbicara bahasa Inggris...

Daripada Meratapi Nasib, Nyok Tulis yang Lain lagi!

Pengumuman pemenang lomba Blog Ide Untuk Suramadu sudah diumumkan. Dari mereka yang menang sih memang kelihatan banget, idenya apa, solusinya apa. Tapi ya sudahlah, tak apa, yang terpenting aku juga sudah ikut berpartisipasi menyumbangkan ide untuk perkembangan dan pembangunan di wilayah Suramadu. Barangkali saja ada secuil ideku yang ikut direalisasikan. :) Lanjut... Daripada meratapi nasib tulisan yang kemarin nggak menang, mendingan aku nulis cerita terbaruku saja. Cerita tentang pengalaman pertamaku bertemu orang-orang Palestina. Tapi sebelumnya jangan dibayangin aku ketemu mereka di sana ya (di Palestina). Melainkan orang-orang Palestinanya yang datang ke Indonesia. Emang ngapain mereka ke sini? Mereka ke sini, ke Indonesia itu untuk menggalang dana. Mereka ngadain konser ke negara-negara di seluruh dunia, untuk ngedapetin dukungan biar Palestina itu merdeka. Ya, freedom for Palestine!!! Lah kok masih sempat-sempatnya ya mereka ngadain konser ke negara-negara lain? Bukan...

Mengukir Senja di Suramadu #Part 3 (The End)

Lomba Blog "Ide Untuk Suramadu"   Senja Baru di Suramadu Bus patas kelas eksekutif jurusan Jogja - Surabaya melaju perlahan. Meninggalkan pangkalanya di Terminal Giwangan, Jogja. Perjalanan dari Jogja ke Surabaya, bukanlah perjalanan yang singkat. Tapi ini adalah perjalanan yang cukup memakan waktu. Selama 8 jam lamanya, aku harus rela duduk di dalam bus itu dengan mendekap tas ransel besar, yang selalu kubawa tatkala pulang kampung. Sebenarnya bukan masalah jika aku memeluk tas ransel itu selama 8 jam perjalanan. Hanya saja yang membuat kakiku cukup gemetar saat turun dari bus adalah, beban yang harus kubawa tak sebanding dengan tubuh yang tak begitu gemuk pun tidak tinggi.  Pagi itu langit terlihat amat cerah. Lalu lalang kendaraan bermotor juga terlihat sangat ramai. Mungkin karena hari di mana aku pulang adalah hari dan jam kantor, semua pengendara terlihat begitu tergesa melalui setiap baris lampu merah. Tak terkecuali dengan bus yang kutumpangi. Namun untuk y...

Mengukir Senja Di Suramadu #Part 2

Lomba Blog "Ide Untuk Suramadu" Mencari Sudut Terindah Deru mesin pesawat Air Asia mulai terdengar bising disertai tangisan seorang anak kecil, yang mengaku telinganya kesakitan. Beberapa kali kursi yang kududuki ikut sedikit berguncang, saat moncong kemudian diikuti badan pesawat mulai menyentuh gumpalan-gumpalan awan putih. Ketinggian pesawat juga mulai menurun perlahan. Dua orang pramugara dan tiga pramugari mulai berdiri dari tempatnya duduk. Mereka mulai menyisir semua tempat duduk penumpang yang ada di sebelah kanan dan kirinya. Sembari terus melempar senyum, mereka berkata ramah, " Bapak, Ibu, penumpang pesawat Air Asia mohon semua alat elektroniknya dinonaktifkan. Dalam waktu lima belas menit lagi kita akan segera melakukan pendaratan. Dan mohon sabuk pengamannya dikenakan kembali. Terima kasih. " *Kurang lebih begitulah kata-kata yang kudengar dari mereka. Tapi jika kurang, ya bisa ditambah-tambah sendiri. Kalau lebih, simpan saja dah ya kelebihan...

Mengukir Senja di Suramadu #part 1

Lomba blog "Ide untuk Suramadu" Tak Cukup Jika Hanya Sekadar Lewat Pernah mendengar Suramadu? Kesan apa yang pertama singgah saat mendengar Suramadu? Bagaimana juga perasaan kalian setelah berhasil melewatinya? Sebab, kalau boleh jujur, aku sendiri pun yang hampir setiap tahun selama kurun waktu 6 tahun ini melewatinya, kadang juga merasa sedih, dan, "bosan". Karena setiap kali melewatinya, pemandangan yang terlihat hanya itu-itu saja, dan belum ada perubahan yang membuatku merasa "Wah", dan berkata ," Ini kampung halamanku ". Nah, dalam event yang cukup membuatku terpancing untuk menggerakkan kembali tut-tut keybord laptop ini, aku akan mencoba sedikit memberikan ulasan, atau lebih pasnya mungkin "ide liar" dan "aneh"ku tentang Suramadu. Tapi mohon maaf sebelumnya, jika nanti tulisannya agak terasa sedikit... puitis, dan mungkin tidak terasa sebagai tulisan tentang perjalanan, artikel, atau semacamnya. Karena aku ak...

Sumpah Pemuda dan "EYD" Versi Baru

Sedikit tergelitik dengan beberapa postingan di fb, terkait Hari Sumpah Pemuda. Isi dari Sumpah Pemuda memang ada 3 hal, yakni Tanah Air Indonesia, Bangsa Indonesia, dan Bahasa Indonesia. Untuk tanah air dan bangsa Indonesia, sudah jelas kita semua mengakui akan adanya. Tapi bagaimana dengan bahasa Indonesia? Nah, itulah yang akan sedikit kita bahas di sini. Bahasa Indonesia, bahasa kesatuan para putra-putri, rakyat dan masyarakat Indonesia. Bahasa yang menyatukan berbagai macam suku yang bertebaran dari Sabang sampai Merauke. Dulu, bahasa Indonesia masih menggunakan ejaan lama, seperti kata "dulu itu sendiri yang masih berejakan "doeloe". Tapi kemudian pada tahun 1967, Pusat Bahasa yang dulunya bernama Lembaga Bahasa dan Kesustraan, mengubah ejaan lama itu menjadi Ejaan Baru. Singkat cerita, melalui Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972, berlakulah Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, atau yang kita kenal dengan istilah EYD. Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempu...

Hidup Dalam Kegelapan

Hidup dalam kegelapan. Bagaimana rasanya? Yang kutahu, hidup dalam kegelapan itu seperti kemarin malam. Saat semua bola lampu di asrama tak satu pun menampakkan cahayanya. Sementara mata-mata manusia mulai menyipit hanya untuk mencari setitik cahaya. Sungguh kelam rasanya malam itu. Apalagi dengan adanya desas-desus yang cukup membuat bulu kuduk berdiri, seolah ingin mencari tahu juga apa yang terjadi. Tadi malam, memang terasa cukup mencekam. Hingga akhirnya, satu persatu cahaya pun berpendar. Menyembul dari balik beraneka ragam bentuk. Dari yang kotak, oval, bundar, hingga lonjong. Semua berlomba memberi warna, menepis malam yang mulai tenggelam dalam kelam.

GGS Tak Setampan Dua Kata Pertama

Kalian tahu fenomena yang tengah terjadi saat ini? Ya, demam GGS! Bagi pecinta film-sinetron khususnya-pasti tahu apa itu GGS. Sementara bagi yang tidak tahu, mungkin akan mengganggap ada nama makanan atau tempat baru. Ya, sebab sebelumnya, saya juga mengira GGS itu nama makanan atau tempat baru. Tapi ternyata bukan. Saya tidak akan berpanjang kali lebar menebarkan kisah apa yang tersembunyi di balik tiga huruf itu. Saya menuliskan tentang hal ini pun bukan karena senang akan tayangan itu. Tapi karena gigi-gigi saya sudah bergemerutuk, jari-jari saya juga ikut mengerang, saat orang-orang berlomba-lomba menyukai film itu. Bukan hanya mereka yang menyukai tayangan itu, tapi ada saja yang malah berlomba-lomba membuat tayangan serupa. Apa sebenarnya kelebihan sinetron yang mulai tak masuk akal itu? Jika dikatakan itu sebagai hiburan, ya memang benar itu hiburan. Tapi hiburan yang tidak mendidik, tidak kreatif, dan tidak masuk akal. Saya kira, orang yang suka dengan tayangan itu sebena...